Rabu, 20 Juni 2012

ROSE (Ending)

Sekeras apapun upaya Rose melarikan diri dari Rena tak pernah ada yang berhasil. Pernikahan akan dilaksanakan besok , Dekorasi, gaun pengantin dan perlengkapan lainnya telah dipersiapkan. Resepsi pernikahan hanya tinggal menghitung jam saja.

Rose tidak pernah mengiingankan hal ini terjadi. Tapi Tuhan tampaknya setuju dengan jalan kehidupan Rose yang harus seperti ini.

Langit malam serasa sadis , gerimis itu meringis .

NAFASku terpatah-patah. Aku merasa sangat lelah. Sepertinya aku akan mendahului Jack , Della dan Rena. 

Rena berdiri didepan pintu kamar, memastikan keadaan Rose tidak lari darinya.  Mereka saling memandang dengan tatapan yang berbeda. Rose dengan sejuta kegelisahan, sementara Rena dengan pandangan tamak . Rena tahu sebentar lagi kehidupannya akan kembali berlumur harta . Tak ada sepatah kata dari Rose ataupun Rena nuansa malam ini seperti peperangan yang dingin. 

Sudah lama tiada kabar dari orang tua, begitu sunyi, kehidupanku benar-benar sendiri .

"Oh Tuhan debur rindu di dadaku yang membuncah begitu keras untuk menjadi tanda keinginanku bertemu mereka?, aku mencintai mereka, aku sayang mereka. Jack, Dell .. aku mencintai kalian"
hatinya merisau rindu , memekikkan derita dan kekacauan , sedang pikirannya terpusat pada keadaan Ayah dan Ibunya .

*kreeeeeek* menutup pintu kamar .

Rose masih menghadap cermin rias, duduk manis dengan hati yang menangis. Ia berdialog dengan sosok diri dihadapannya .

"Tuhan , aku lelah lemah
tak kuat asa menanggung dosa
kali ini aku benar putus asa
ampun Tuhan
tapi aku sudah tak sanggup lagi .."

Rose tak kuat lagi , Diraihlah sebilah yang tajam dari cawan buah. Dengan kesedihan teramat dalam, pelan - pelan menyayat dirinya sendiri. Gores-goresan itu tampak jelas menghiasi seluruh bagian tubuhnya, Ia menyakiti dirinya . Malam gerimis menyaksikan kesakitan itu .

Cuaca semakin lembap, sebilah benda tajam ditangan kanan itu berhenti pada satu yang tak terkena goresan. Yaitu Nadi. Ada sekelumit ketakutan, seluruh tubuhnya dibasahi keringat , namun besarnya Rasa kekecewaan  mengalahkan takut. *Greesss* tetes demi tetes darah menetes , beruraian air mata beriiringan kata "Maaf ayah, ibu.. aku cinta kalian" terlontar dari mulutnya. Rose melemah, tubuhnya dingin dan mulai pucat . Darah itu berserak dilantai, pisau tak mampu lagi digenggam . Sepuluh menit berlalu merenggang nyawa,  akhirnya habis jualah nafas Rose.

Tubuhnya terkulai di lumuran cairan merah yang kental . Aroma segar darah adalah akhir dari penderitaannya.
Oh Rose Malang .

Tidak ada komentar: