Sekeras apapun upaya Rose melarikan diri dari Rena
tak pernah ada yang berhasil. Pernikahan akan dilaksanakan besok , Dekorasi,
gaun pengantin dan perlengkapan lainnya telah dipersiapkan. Resepsi pernikahan
hanya tinggal menghitung jam saja.
Rose tidak pernah
mengiingankan hal ini terjadi. Tapi Tuhan tampaknya setuju dengan jalan
kehidupan Rose yang harus seperti ini.
Langit malam serasa
sadis , gerimis itu meringis .
NAFASku
terpatah-patah. Aku merasa sangat lelah. Sepertinya aku akan mendahului Jack ,
Della dan Rena.
Rena
berdiri didepan pintu kamar, memastikan keadaan Rose tidak lari darinya.
Mereka saling memandang dengan tatapan yang berbeda. Rose dengan sejuta
kegelisahan, sementara Rena dengan pandangan tamak . Rena tahu sebentar lagi
kehidupannya akan kembali berlumur harta . Tak ada sepatah kata dari Rose
ataupun Rena nuansa malam ini seperti peperangan yang dingin.
Sudah
lama tiada kabar dari orang tua, begitu sunyi, kehidupanku benar-benar sendiri
.
"Oh
Tuhan debur rindu di dadaku yang membuncah begitu keras untuk menjadi tanda
keinginanku bertemu mereka?, aku mencintai mereka, aku sayang mereka. Jack,
Dell .. aku mencintai kalian"
hatinya merisau rindu ,
memekikkan derita dan kekacauan , sedang pikirannya terpusat pada keadaan Ayah
dan Ibunya .
*kreeeeeek* menutup
pintu kamar .
Rose masih menghadap
cermin rias, duduk manis dengan hati yang menangis. Ia berdialog dengan sosok
diri dihadapannya .
"Tuhan , aku lelah
lemah
tak kuat asa menanggung
dosa
kali ini aku benar
putus asa
ampun Tuhan
tapi aku sudah tak
sanggup lagi .."
Rose tak kuat lagi ,
Diraihlah sebilah yang tajam dari cawan buah. Dengan kesedihan teramat dalam,
pelan - pelan menyayat dirinya sendiri. Gores-goresan itu tampak jelas
menghiasi seluruh bagian tubuhnya, Ia menyakiti dirinya . Malam gerimis
menyaksikan kesakitan itu .
Cuaca semakin
lembap, sebilah benda tajam ditangan kanan
itu berhenti pada satu yang tak terkena goresan. Yaitu Nadi. Ada sekelumit
ketakutan, seluruh tubuhnya dibasahi keringat , namun besarnya Rasa
kekecewaan mengalahkan takut. *Greesss* tetes demi tetes darah menetes ,
beruraian air mata beriiringan kata "Maaf ayah, ibu.. aku cinta
kalian" terlontar dari mulutnya. Rose melemah, tubuhnya dingin dan mulai
pucat . Darah itu berserak dilantai, pisau tak mampu lagi digenggam . Sepuluh
menit berlalu merenggang nyawa, akhirnya habis jualah nafas Rose.
Tubuhnya
terkulai di lumuran cairan merah yang kental . Aroma segar darah adalah akhir
dari penderitaannya.
Oh Rose Malang .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar